Get me outta here!

Jumat, 16 September 2016

Fungsi Manajemen dalam Pendidikan dan Pelatihan

Manajemen merupakan usaha untuk mengelola sumber daya manusia dalam suatu organisasi agar bekerja secara optimal, efektif dan efisien untuk mewujudkan tujuan organisasi. Kegiatan dalam manajemen sendiri dilaksanakan dalam fungsi-fungsi perencanaan, penggerakan, pengorganisasian, koordinasi, supervisi, pemantauan, ketenagaan dan evaluasi. Sedangkan pendidikan dan pelatihan (Diklat) merupakan salah satu upaya pengembangan pegawai dalam rangka memenuhi kinerja yang diharapkan dan memenuhi kualifikasi sumber daya manusia untuk menghadapi perubahan tuntutan kualitas baik dari internal maupun eksternal. (Hamalik, 2000 : 19). Dalam pendidikan dan pelatihan terdapat fungsi manajemen yang sistematis dan terencana berdasarkan fungsi manajemen secara umum meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan (kontrol), dan evaluasi (Sulistiyani, 2003: 25). Dalam perencanaan Diklat perlu direncanakan dengan cermat agar supaya tujuan diklat dapat tercapai meliputi penentuan tujuan Diklat dan penyusunan program diklat.Penyelenggarakan Diklat. Dalam pelaksanaan diklat perlu memperhatikan penetapan organizing commite (OC), Staring commitee (SC). Sementar dalam evaluasi perlu diperhatikan Tahap evaluasi diklat perlu dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan diklat telah memenuhi harapan atau tujuan dari diklat yang sudah dicanangkan sebelumnya atau apakah diklat mampu menjawab permasalahan-permasalahan kinerja kepegawaian atau organisasi.


DAFTAR PUSTAKA

Sulistiyani, Ambar & Rosidah. (2003). Manajemen Sumber Daya Manusia,
Yogyakrta: Graha Ilmu.
Hamalik, Oemar. (2000). Manajemen Pendidikan dan Pelatihan. Bandung : Y.P Pemindo.

Laboratorium Komputer Sekolah Ideal di Zaman Modern

Di zaman modern ini Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) terus berkembang pesat menghasilkan produk berupa alat canggih yang telah merambah ke dalam dunia pendidikan. Dalam pendidikan terdapat pembelajaran bagi peserta didik yang dituntut untuk menguasai TIK sesuai perkembangan yang telah terjadi agar pengetahuan dan kemampuannya tidak tertinggal zaman. Sekolah selaku tempat diadakannya pembelajaran secara formal harus menyediakan sarana pra-sarana yang menunjang pembelajaran TIK dengan baik. Diantara banyak sarana disekolah yang telah disediakan pemerintah terdapat salahsatu sarana pra-sarana yang sampai saat ini menunjang pembelajaran TIK yaitu laboratorium komputer. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Pasal 43 dalam Permana (2014, hlm. 51) sebuah laboratorium komputer merupakan prasarana yang wajib bagi semua sekolah di Indonesia dan Propinsi Bali khususnya. Laboratorium komputer yang telah diadakan di sekolah tentunya harus memiliki standar yang baku sesuai kebijakan pemerintah. Standar laboratorium komputer baku yang telah ditentukan pemerintah lebih idealnya harus memiliki standar tambahan yang mengikuti zaman modern sekarang ini. Maka dari itu dapat dicermati beberapa standar ideal laboratorium komputer yang dapat diterapkan di zaman modern ini.
Menurut Ibrahim (2003, hlm.42) Laboratorium komputer adalah sarana yang digunakan untuk berlangsungnya praktikum komputer sebagai pendekatan pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi. Idealnya bukan hanya praktikum komputer yang dilakukan tetapi pembelajaran TIK berupa inovasi lain dari dunia komputer dari perkembangan zaman modern. Untuk menunjang pembelajaran inovasi modern tentunya harus di berikan fasilitas laboratorium komputer yang memadai sesuai standar ideal agar kegiatan pembelajaran efektif. Sehingga apa yang di pelajari dan di praktikkan peserta didik didapat penguasaan pengetahuan yang lebih luas lagi. Pemerintah sebenarnya sudah menetapkan standar ideal melalui kebijakan standar laboratorium dalam Permendiknas nomor 24 tahun 2007. Ruangan laboratorium yang ideal memiliki panjang 30m dan lebar 5m yang digunakan untuk 15 peserta didik dengan rasio minimum luas ruang laboratorium komputer adalah 2 m2/peserta didik. (Marpanaji, 2014, hlm.68). Untuk perabotan laboratorium terdiri dari kursi peserta didik 1 buah/peserta didik, meja 1 buah/2 peserta didik, kursi guru 1 buah/guru, meja guru 1 buah/guru. Sedangkan peralatan Pendidikan teridiri dari Komputer 1 unit/2 peserta, Printer 1 unit/lab, Scanner 1 unit/lab, Titik akses Internet 1 titik/lab, LAN sesuai banyak komputer, Stabilizer sesuai banyak komputer, dan modul praktek 1 set/komputer. (Ali, 2009, hlm.3).
Dengan menerapkan standar ideal fasilitas laboratorium komputer di sekolah yang ditetapkan oleh pemerintah sebenarnya belum memenuhi kriteria perkembangan di zaman modern. Masih banyak yang perlu di tambahkan untuk mencapai idelisme sejati sehingga pengetahuan yang didapat lebih luas lagi tidak sekedar praktikum komputer biasa. Perkembangan yang dapat diadopsi seperti perkembangan komputer dengan bentuk papan tulis fisik yang dapat dipakai oleh siswa untuk berkreatifitas menuangkan idenya khususnya dalam hal menggambar. Ada juga komputer yang bisa menampilkan simulasi secara nyata melalui virtual reality di ruang lab menggunakan handset virtual reality (VR) sehingga pembelajaran terasa lebih jelas dan menyenangkan. Tetapi masalahnya untuk memenuhi semua itu sebuah lab harus mengelurkan budget yang tidak kecil karena semuanya berasal dari peralatan yang canggih yang berkembang zaman modern ini (Jusak, 2013, hlm. 85). Hal besar ini dapat dicermati oleh semua orang pelaku pendidikan terutama pemerintah dengan penerapan pada salahsatu sekolah model tidak perlu semuanya karea masih menjadi sebuah pemikiran yang bisa dicoba untuk kemajuan pendidikan yang sesuai perkembangan zaman modern.




DAFTAR PUSTAKA
Ali, Muhamad. (2010). Standar Laboratorium Komputer Sekolah. 1(1), hlm.1-6.
Ibrahim, Bafadal. (2003). Manajemen Perlengkapan Sekolah Teori dan Aplikasinya. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Jusak. (2013). Teknologi Komunikasi Data Modern. Yogyakarta : Andi Publisher.
Marpanaji, Eko. (2014). Kontribusi Laboratorium Komputer, Internet dan Motivasi Berprestasi terhadap hasil Belajar Siswa RPL se-Kabupaten Bantul. 4(1), hlm 67-82.

Permana, Agus. (2014). Pengembangan Lab Komputer Sederhana Berbasis Jaringan Multipoint Menggunakan Switch Sebagai Sarana Penunjang Proses Pembelajaran. 3(2), hlm 51-57.

Problematika Pendidikan Nasional di Era Globalisasi

Saat ini perkembangan pendidikan nasional telah memasuki babak besar dalam prosesnya dari waktu ke waktu memasuki era globalisasi. Hal ini merupakan kenyataan yang tidak dapat dipungkiri lagi menyangkut munculnya era globalisasi yang salahsatunya dipicu oleh kebijakan yang telah dibentuk bersama oleh Indonesia dan Negara-negara di dunia. Pendidikan nasional telah berusaha mengikuti perkembangannya karena tidak ingin tertinggal dari Negara lain dan setiap kebijakan yang diputuskan disesuaikan dengan standar yang telah ditentukan secara internasional. Menurut Bhagwati dalam Ali (2009, hlm.229) globalisasi berimplikasi pada perlunya pendidikan berkualitas sesuai dengan standar internasional, dengan hal tersebut maka semua kebijakan yang diambil dalam bidang pendidikan diarahkan untuk memenuhi pencapaian standar itu. Jika memperhatikan pendidikan Indonesia yang masih berkembang sementara Pendidikan Indonesia terus menggapai standar yang telah ditentukan secara internasional maka anak timbul problematika serius dalam bidang pendidikan nasional di era globalisasi.
Dilihat dari sudut pandang global Indonesia masih tergolong ke dalam negara yang berkembang terutama dalam bidang pendidikan. Hal ini dapat ditentukan dari angka indeks pembangunan manusia (IPM) yang merupakan pengukuran terhadap perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan, dan standar hidup untuk semua negara di seluruh dunia, (Musyaddad, 2013, hlm.1). IPM yang dikeluarkan oleh United Nations Development Programme (UNDP) digunakan untuk mengklasifikasi suatu Negara termasuk maju, berkembang, atau terbelakang. Berdasarkan rilis tahun 2014 IPM Indonesia mencapai angka 0,684 dari standar dunia sebesar 0,702. Angka tersebut menempatkan posisi Indonesia pada peringkat ke-108 dari 187 negara. Dengan angka tersebut jelas indonesia tergolong dalam tergolong ke dalam negara dengan kondisi berkembang dalam bidang pendidikan. (BPS, 2014)
Dalam era globalisasi ini Indonesia yang pendidikannya tergolong berkembang sedang melakukan usaha untuk menerapkan standar internasional melalui sistem dan kurikulum pendidikan nasional secara perlahan-lahan. Menurut Isjoni (2009, hlm.63) kondisi Indonesia berada pada kebingungan karena ingin mengejar ketertinggalan untuk menyamai kualitas pendidikan internasional, yang pada kenyataannya Indonesia belum siap untuk mencapai kualitas tersebut karena masih tergolong negara berkembang. Hal tersebut tentunya dapat menimbulkan permasalahan serius jika melihat keadaan masyarakat yang beragam terutama masyarakat tingkat bawah ketika meyikapi standar pendidikan akibat pengaruh globalisasi. Sedangkan bangsa Indonesia sendiri tentunya ingin memajukan dirinya dalam dunia pendidikan agar dapat bersaing dengan masyarakat global. Permasalahan serius tersebut adalah pendidikan nasional yang akan mengalami ketidakjelasan, karena di era globalisasi sistem pendidikan akan terus menerus berubah-ubah menyesuaikan diri dengan arus globalisasi yang semakin hari semakin bergerak.
Sampai saat ini masyarakat Indonesia yang banyak dilanda krisis moral yang merupakan indikasi dari kegagalan pembangunan pendidikan. Krisis moral ini dapat dilihat dari KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme), Penyalahgunaan narkotika, tawuran antar pelajar, gaya hidup yang hedonisme dan lain-lain yang telah mewabah kepada masyarakat mulai dari tingkat atas sampai bawah dan sampai saat ini belum selesai. (Supardi, 2012, hlm. 2) Dengan adanya dampak dari kegagalan pembangunan pendidikan tersebut maka pengaruh globalisasi tidak akan diterima secara menyeluruh oleh bangsa Indonesia. Pada akhirnya kualitas pendidikan nasional tidak akan mencapai perkembangan globalisasi yang telah terjadi dan kualitas pendidikannya akan tertinggal dari negara-negara lainnya.

Solusi untuk problematika pendidikan nasional di era globalisasi dapat diatasi dimulai dari seorang pemimpin yang paham betul terhadap keadaan Indonesia yang sedang dilanda krisis moral dan dapat mengatasinya dengan mengutamakan pendidikan. Pemimpin dapat mengambil keputusan untuk tidak perlu cepat dalam mengikuti arus globalisasi, tetapi harus dapat mempersiapkan negaranya dalam menghadapi arus globalisasi melalui peningkatan kualitas pendidikan. Peningkatan ini juga harus disesuaikan oleh pemimpin dengan kondisi masyarakat yang beragam mulai dari tingkat bawah sampai atas. Hal tersebut sesuai dengan amanat pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa yang akan tercapai sesuai harapan seluruh lapisan masyarakat.




DAFTAR PUSTAKA

Ali, M. (2009). Pendidikan untuk Pembangunan Nasional. Bandung: IMTIMA.
Badan Pusat Statistik. (2015). Indeks Pembangunan Manusia 2014. Jakarta : BPS.
Isjoni. (2009). Menuju Masyarakat Belajar. Yogyakarta : Pustaka Belajar.
Musyaddad, K. (2013). Problematika Pendidikan di Indonesia. 4 (1), hlm. 51-57.

Supardi, U._____. Arah Pendidikan di Indonesia Dalam Tataran Kebijakan dan Implementasi. 2 (2), hlm. 111-121.

Minggu, 29 Maret 2015

Beberapa Hal yang Akan Kita Mengerti Saat Berumur 20 Tahunan



Pada masa 20 tahunan kita akan mulai mengerti hal-hal yang terjadi di sekeliling kita, tentang kehidupan, hubungan, pertemanan dan cinta yang tentu tidak akan selalu indah, kita juga akan merasakan rasa sakit, bagaimana dikhianati, dan bagaimana menyayangi, tapi disitulah letak pembelajarannya bukan? kita mulai dewasa, tidak seperti saat kita umur belasan, transisi dari kehidupan tanpa tanggung jawab ke “dunia yang sebenarnya” membuat kita akan mendapat banyak pelajaran saat berumur 20 tahun, haha setidaknya itulah yang hampir semua orang rasakan dan dibawah ini ada 10 hal yang akan kita mengerti saat berumur 20 tahunan. Check it out !

1. Dunia Yang Kita Lihat begitu Menawan.




Ini adalah perasaan alami yang kita rasakan saat pertama lulus SMA, kita akan mencari tahu tentang hubungan, politik, karir dan apapun yang bisa kita cari tahu, kita akan banyak melakukan kesalahan, tapi itu wajar, pengalaman adalah guru yang paling berharga.

2. Musuh Terbesar Adalah Diri Kita Sendiri.



Tidak ada lagi yang melarang melakukan ini itu, orang tua tidak lagi menyuruh mengerjakan PR sekeras saat kita masih sekolah, kita akan melawan diri sendiri, melawan rasa malas, belajar disiplin, karena kita sadar perubahan ada pada sebesar apa kemauan merubah pribadi kita.

3. Kita Tidak Bisa “Nongkrong” Seperti Biasanya.



Dulu kita sering kumpul bersama teman2, begadang, melakukan hal-hal lucu dan terkadang sedikit bodoh yang sangat berkesan dan menjadi kenangan seumur hidup, tapi sekarang tidak, meskipun kadang kita nongkrong tapi itu tidak akan sesering dulu, kita mulai sibuk dengan urusan masing2, sibuk untuk menggapai mimpi dan mempersiapkan masa depan.

4. Kejujuran Itu Mahal.



Kejujuran Itu Mahal, Bukan masalah menyontek saat UN atau beli gorengan di kantin lalu sengaja lupa membayarnya, kita akan menghadapi situasi yang lebih pelik, suatu saat kita akan dihadapkan pada situasi diantara dua pilihan, antara jujur dan tidak, sayangnya jika kita jujur berarti kita tidak akan mendapat apa2, tapi ingat, selalu ada Tuhan yang Maha Melihat dan Maha Mengatur Rizki, jujur sangat sulit tapi lakukanlah sebisa kita, hidup ini bukan permainan.

5. Hidup Itu Keras, Tidak Selalu Berjalan Mudah.



Kita akan mulai mengerti tentang tanggung jawab, kita akan mulai memikirkan masa depan dan itu membuat sedikit takut dan mungkin stress, kita mungkin jatuh dan melakukan banyak kesalahan dalam hidup, tapi bagaimanapun kita harus bangkit dan tetap berjuang. Just keep going.

6. Hubungan Yang Serius Sulit Untuk Dijaga.



Kita bosan bermain2 dan mulai mencari pasangan yang serius, kita akan menyadari bahwa hubungan itu membutuhkan pengorbanan dan harus dijaga, kita juga sadar bahwa orang lain juga begitu, hubungan ini penting karena menyangkut siapa yang akan menemani hingga akhir waktu (ciee kaya lagu, haha).

7. Orang Yang Rendah Hati Disenangi Banyak Orang



Jika kita sombong, orang akan menjauh, sebaliknya, kita akan disenangi banyak orang jika rendah hati, seberapa besar pun pencapaian kita, tetap rendah hati dan bersyukurlah, karena Tuhan bisa mencabut apapun yang kita miliki dalam sekejap.

8. Kamu Mulai Ambil Bagian Di Keluargamu.



Keluarga adalah nomor 1, mereka yang selalu mendukung kita, sekarang kita ingin membalas budi, kita ingin membahagiakan orang tua.

9. Mencari Uang Itu Susah. "Kita Akan lebih Menghargai Setiap Rupiah Yang Kita Punya".



Kita akan sadar berapa banyak biaya yang orang tua keluarkan hingga kita dewasa, hingga kita menjalani hidup sendiri, kita sadar setiap receh itu sangat berarti dan mulai menghargai uang hasil kerja keras kita.

10. Kita Tahu Dewasa Itu Butuh Proses.



Menjadi dewasa bukan sekedar perubahan fisik, dewasa itu butuh proses, seperti yang FS tulis diatas kita akan banyak belajar hingga kita mengerti arti hidup sebenarnya.

Semoga Kita Tetap Belajar Dan Menjadi Pribadi Yang Lebih Baik Setiap Hari Amiiin.
Sharing from Kaskus

Senin, 18 Agustus 2014

Ketika dunia sudah membosankan saatnya meng-upgrade diri

A’a Gym pernah mengatakan bahwa”Kita semua punya waktu yang sama dalam sehari, yaitu 24 jam. Bintang kelas 24 jam, yang tinggal kelas juga 24 jam. Ada yang dalam waktu 24 jam bisa ngurus negara, ngurus keluarga dan lain-lain. Namun, ada yang dalam 24 jam ngurus diri sendiri saja tidak bisa.” Pikiranku kembali terbang mengitari nama-nama orang yang telah mengukir prestasi dan membuat sejarah dalam kehidupan ini. Semakin kuingat nama mereka, semakin malu aku dengan prestasi mereka. Karena seperti kata A’a Gym tadi, kita punya waktu yang sama tetapi kenapa prestasi kita berbeda-beda. 

Jelas sudah, hal yang membuat perbedaan itu adalah cara kita mengisi waktu ini. Banyak pesan-pesan bijak yang mengingatkan kita untuk berhati-hati dengan waktu. Waktu adalah sesuatu yang kita dapatkan setiap hari tetapi terkadang kita lupa kalau itu ada batasnya. Seketika kita sadar kalau waktu kita terbatas hidup di dunia ini, semua biasanya sudah terlambat. Tinggal penyesalan saja. Sayangnya, penyesalan tidak akan membuat waktu yang tersisa menjadi lebih berharga.
Secara singkat kita bisa mengatakan,”Jika pandai mengisi waktu, banyak kesempatan yang akan datang.” Kesempatan tidak pernah datang sendiri tanpa diciptakan. Tidak akan pernah ada seorang bos Bank yang mendatangi seseorang yang hanya berdiam diri saja dirumah untuk menawarkannya kerja di tempatnya.  Kesempatan kerja di Bank akan terbuka bila orang itu mulai berbuat, yang artinya mulai mengisi waktu yang bisa membuka kesempatannya untuk bisa kerja di Bank. Hal yang serupa juga akan terjadi kepada seseorang yang punya mimpi untuk bisa kuliah keluar negeri tetapi tidak pernah berbuat dan mengisi waktunya dengan hal-hal yang bisa membuka peluang untuk mewujudkan mimpi tersebut. 

Namun, memang ada kalanya pikiran kita diselimuti kabut kebingungan yang membuat kita tidak bisa berpikir jernih dan memutuskan hal-hal dengan jelas. Kitapun bingung mau mengerjakan dan melakukan apa. Ini hal yang lumrah terjadi. Semua orang mengalami hal tersebut selama mereka masih menyandang label ‘Manusia’. Hanya saja, apakah itu tanda kita harus berhenti? Jawabnya, ‘bukan!’ Bahkan walaupun kita menganggap ini adalah tanda kita untuk berhenti, ini hanyalah waktu untuk berhenti sejenak layaknya sebuah mobil yang harus berhenti beberapa menit di POM bensin untuk mengisi bahan bakar. Kalau kata Robert H. Schuller,”Problems are not stop signs, they are guidelines.”

Kita sering mendengar kata-kata bahwa segala sesuatu didunia ini pasti berubah dan satu-satunya yang tidak berubah hanyalah perubahan itu sendiri. Sayangnya, kita jarang meletakkan kalimat tersebut sebagai cermin terhadap diri kita sendiri. Sudah berubahkah kita? Sudah berapa jauhkah kita berubah? Perubahan dalam artian, bertambah pengetahuan, bertambah kemampuan serta bertambah matang sikap kita dalam menghadapi hidup ini. Tidak mungkin menghadapi sesuatu yang terus berubah dengan sesuatu yang sama terus dari waktu ke waktu. Disaat kita melihat seorang anak bayi, kita menggunakan kata-kata yang lucu dan kekanak-kanakkan untuk menarik perhatiannya. Tetapi, jangan coba-coba melakukan itu disaat bayi itu sudah dewasa. 

Pada dasarnya disaat kita bertanya,”Mau mengerjakan apa ya? Koq kayaknya ngak ada yang bisa dikerjain atau koq bosan sekali ya rasanya,” itu adalah sebuah tanda untuk kita. Tanda bahwa diri kita sudah waktunya untuk di upgrade. Di upgrade dalam hal pengetahuan dan kemampuan. Ini juga indikasi bahwa diri kita sudah old fashioned dan new fashions sudah di released. Bila kita tidak segera meng-upgrade diri kita dengan features yang terbaru. Orang-orang diluar sana tidak akan tertarik pada kita dan pada akhirnya kita akan diobral atau masuk gudang. Mungkin kalimat-kalimat ini terdengar berlebihan, tetapi yakinlah, hal seperti itulah yang akan terjadi pada diri kita disaat tidak berubah. 

Disaat kita meng-upgrade diri, waktu yang ada akan terpakai dengan baik. Bila waktu yang ada sudah digunakan dengan baik, maka kesempatan baru akan berdatangan. Jika sudah begitu, prestasi demi prestasi pasti akan terukir dengan sendirinya. Mari Upgrade diri untuk melenjitkan potensi diri, semangatttt!!! :) 

Ingat pesan Rasulullah,” Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam pada hari kiamat sebelum ditanya tentang 4 perkara : Tentang umurnya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa ia gunakan, hartanya dari mana diperoleh dan kemana dibelanjakan, dan ilmunya, apa yang diamalkannya.” (HR. Tirmidzi)

Pentingnya manajemen pengembangan diri sebagai kunci sukses

Setiap momentum pergantian tahun dalam perjalanan hidup kita, selalu kita iringi dengan melakukan muhasabah. Hal ini dilakukan bukan sekedar untuk mengenang masa lalu, namun sebagai persiapan untuk menghadapi masa depan. Dengan melakukan muhasabah, kita dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan, peluang maupun tantangan yang  kita miliki.

Negara Jepang, dengan caranya sendiri mampu mengantarkan masyarakatnya menjadi masyarakat dengan peradaban modern. Rahasia pencapaian kemajuan mereka adalah Keizen. Kaizen adalah konsep yang diperkenalkan oleh Masaaki Imai, seorang pakar produktivitas perusahaan Jepang. Imai yang sejak tahun 1950-an mempelajari produktivitas industri Amerika kemudian menulis buku Kaizen, The Key to Japan s Competitive Success (1986) yang berisi rahasia keberhasilan perusahaan dan industri Jepang.

Strategi Kaizen merupakan konsep tunggal manajemen Jepang yang menjadi kunci sukses dalam persaingan. Kaizen berarti penyempurnaan secara kontinyu dan melakukan pengembangan secara total dengan melibatkan semua unsur dan potensi yang ada. Kaizen berorientasi pada proses dan usaha yang optimal, berbeda dengan manajemen Barat yang lebih berorientasi pada hasil.

Esensi konsep Keizen dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam bentuk upaya untuk selalu mengembangkan dan menyempurnakan kemampuan, prestasi dan produktivitas spiritual, intelektual, fisik maupun material secara kaffah alias total.

Pengembangan diri sebenarnya merupakan proses pembaruan. Proses ini disebut oleh Stephen R. Covey dalam The 7 habits of Highly Effective People (1993) sebagai konsep asah gergaji. Pembaruan yang dilakukan, menurut Covey mesti meliputi empat dimensi yaitu: pembaruan fisik, spiritual, mental dan sosial/emosional.

Pembaruan fisik dapat dilakukan dengan melalui olahraga, asupan nutrisi, dan upaya pengelolaan stres. Pembaruan spiritual dapat diraih melalui  penjelasan tentang nilai dan komitmen, melakukan studi atau kajian dan berkontemplasi atau berdzikir. Dimensi mental dapat diperbarui melalui kegiatan membaca, melakukan visualisasi, membuat perencanaan dan menulis. Adapun dimensi sosial/emosional diasah melalui pemberian pelayanan, bersikap empati, melakukan sinergi dan menumbuhkan rasa aman dalam diri. Dalam proses pengembangan diri diperlukan keseimbangan (tawazun) dan sinergi (tanasuq) untuk mencapai hasil optimal sebagaimana yang diharapkan.

Pengembangan diri tidak muncul begitu saja. Untuk meraihnya, diperlukan latihan dengan pola seperti spiral. Pola ini melatih kita untuk bergerak ke atas sepanjang spiral secara terus-menerus. Pola spiral ini memaksa kita untuk melalui tiga tahap kegiatan yakni belajar, berkomitmen, dan berbuat. Latihan ini harus terus-menerus berjalan secara berulang-ulang sampai kualitas dan produktivitas diri kita menjadi semakin tinggi.

Apa yang perlu dikembangkan?
Dalam melakukan pengembangan diri, kita memerlukan tolok ukur yang nyata dan aplikatif untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan yang telah kita capai . Konsep Sharpening Our Concept and Tools (SHOOT) yang dikembangkan oleh Lembaga Manajenen Terapan Trustco berikut ini dapat kita jadikan sebagai contoh daftar aktivitas pengembangan diri.

1.   Memperluas pengetahuan mengenai fakta situasional. Jangan bersikap tak acuh dengan lingkungan sekitar;
2.   Menjalin hubungan dengan orang lain;
3.   Mengelola waktu secara efektif;
4.   Menjaga keaktualan pengetahuan agar tidak tertinggal dan relevan. Jangan malas mencari pengetahuan baru;
5. Berlatih untuk mengumpulkan fakta dan membuat asumsi;
6.Membuat jurnal pribadi dengan menggunakan catatan harian agar jadwal kita menjadi teratur.;

Menentukan batas-batas kekuasaan dan otoritas yang kita miliki
1. Jelas agar kita dapat leluasa berkembang;
2.Mendengarkan dengan seksama;
3.Melakukan pengambilan keputusan dengan baik;
4. Membiasakan membuat teknik perencanaan (planning) yang baik. 

Melakukan secara mandiri

Proses pengembangan diri yang kita lakukan tidak akan berjalan lancar apabila kita  mengandalkan dukungan dari luar. Diperlukan sebuah etos tarbiah dzatiyah (self education) yang berasal dari dalam diri kita sendiri. Pembelajaran yang harus dilakukan secara mandiri ini setidaknya mencakup tiga hal, yaitu: kemampuan membuat kurikulum atau agenda pribadi (self curriculum), kemampuan menjadi pembelajar yang cepat (speed learner), dan belajar secara mandiri (self learning).

Melakukan proses pengembangan diri memang tidak bebas hambatan, bahkan seringkali penuh kendala. Albert Ellis, psikolog dan penulis terkenal dalam bukunya Feeling Better, Getting Better, Staying Better (2001) memperkenalkan konsep terapi Rational Emotive Behavior Theraphy (REBT) . Konsep ini diperkenalkan  oleh Ellis untuk membantu   mengatasi hambatan dalam pengembangan diri. Beberapa hal yang disampaikannya berikut ini dapat menjadi bahan renungan kita:
Bicara adalah perkara mudah. Namun, hanya bicara yang diikuti oleh tindakan yang dapat membuat segalanya menjadi lebih baik.
Anda tidak akan dapat mencapai kemajuan apabila selalu mengerjakan sesuatu dengan cara yang sama. Oleh karena, mengubah cara harus sering dilakukan meskipun dapat membuat anda merasa kurang nyaman.
Anda harus berusaha menghentikan kebiasaan yang tidak baik dengan sungguh-sungguh.
Semakin lama anda tenggelam dalam perilaku yang merugikan diri sendiri, semakin lama anda harus berjuang untuk menghentikannya.
Menghindari tindakan yang anda kuatirkan akan gagal hanya dapat mengurangi kecemasan anda sementara. Dalam jangka panjang, penghindaran ini justru dapat berakibat  buruk. Oleh karena itu lebih baik menghadapinya, ketimbang  mengindar.
Makin sering anda berfikir bahwa anda tidak berguna dan tidak berharga setelah mengalami kegagalan, semakin sulit anda mencapai keberhasilan.
Kalau anda ingin menemukan kedamaian dan kegembiraan di dunia dan Insya Allah di surga nanti,  atau  ingin menjadi lebih baik, anda harus memaksa diri untuk melakukannya.
Sikap diri seperti di atas perlu dibangun karena menentukan gaya manajemen pengembangan diri anda. John Maxwell dalam The Winning Attitude; Your Key to Personal Success (1993) menyimpulkan bahwa sikap hidup menentukan tindakan, pola hubungan dengan orang lain, perlakuan yang kita terima dari orang lain, keberhasilan dan kegagalan, menentukan hasil akhir, cara pandang yang positif dan optimis. Ia juga menyatakan, sikap anda  sekarang adalah hasil dari sikap-sikap anda selama ini.
Oleh karena itu sangat tepat jika kita selalu berpegang pada pesan Nabi saw dalam hadits riwayat al-Bukhari, segala aktivitas ditentukan oleh niat dan seseorang akan menuai hasil aktivitasnya sesuai dengan niatnya. Niat itulah sebenarnya yang merupakan benih dari sikap diri sehingga perlu dijaga kesucian dan kekuatannya. Dengan demikian, niat  dapat memberikan energi positif dalam pengembangan diri. Nabi juga bersabda bahwa sangatlah beruntung seseorang yang senatiasa menyibukkan diri dengan kekurangannya, ketimbang mengorek kekuarangan orang lain. (QS. Ali Imran: 110-194)

Sumber : http://ummahattokyo.tripod.com/kepribadian/manajemen_pengembangan_diri.htm

Senin, 23 Juni 2014

Hati-hati dengan sikap sombong karena ada pengaruhnya

Sifat sombong atau ego ini hampir semua orang memilikinya , cuma sesiapa yang kuat mujahadah dan takutkan Allah sahaja berjaya mengikis sifat keji ini. Antara ciri-ciri seseorang itu ada penyakit sombong antara lain :

1. Suka memperkecilkan orang lain lebih-lebih lagi orang yang dipandang hina dan lebih rendah taraf darinya.

2. Susah menerima sebarang nasihat, teguran atau kritikan daripada orang lain terutama orang di bawahnya.

3. Bermegah dengan keistimewaan anugerah Allah kepadanya, seperti cantik, berjawatan tinggi, kaya, bijak, mahsyur, dipuji orang, keturunan baik dan sebagainya.

4. Suka marah-marah kepada orang atau membentak-bentak orang di khalayak ramai.

5. Rasa diri hebat, sempurna, kuat hingga membelakangkan kehebatan dan kebesaran Allah samasekali.

6. Suka bergaul dengan orang yang setaraf dengannya sahaja.

7. Pendapatnya sahaja yang betul dan mesti diterima, orang lain salah dan tidak penting.

8. Susah minta maaf dan senyum pada orang lain.

9. Tidak pernah fikir kesusahan orang, ia fikir kesenangannya sahaja.

Maka tidak akan berlaku sombong, kecuali orang yang merasa dirinya besar dan tinggi, dan ia tidak merasa tinggi atau besar, kecuali karena adanya keyakinan, bahwa dirinya memiliki keunggulan, kelebihan dan kesempur-naan yang dengannya ia menganggap berbeda dengan orang lain.
Ada beberapa sebab yang mendorong seseorang menganggap dirinya lebih unggul daripada orang lain, sehingga melahirkan kesombongan dalam jiwa, yaitu:

1. Sombong dengan Ilmu

Ada sebagian thalib ilmu atau orang yang diberi pengetahuan oleh Allah, namun malah justru menjadikan dirinya sombong. Ia merasakan dirinyalah yang paling pandai (alim), menganggap rendah orang lain, menganggap bodoh mereka dan selalu ingin agar dirinya mendapatkan penghormatan, pelayanan dan fasilitas khusus dari mereka. Dia memandang, bahwa dirinya lebih mulia, tinggi dan utama di sisi Allah daripada mereka.

Ada dua faktor yang menyebabkan seseorang menjadi sombong dengan ilmunya:

Pertama, Ia mencurahkan perhatian terhadap apa yang ia anggap sebagai ilmu, padahal hakikatnya ia bukanlah ilmu. Ia tak lebih sebagai data atau informasi yang direkam dalam otak yang tidak memberikan buah dan hasil, karena ilmu yang sesungguhnya akan semakin membuat ia kenal siapa dirinya dan siapa Rabbnya. Ilmu yang hakiki akan melahirkan sikap khosyah (takut kepada Allah) dan tawadhu’ (rendah hati), bukan sombong, sebagai-mana firman Allah Subhannahu wa Ta"ala ,

"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama." (QS. Faathir : 28)

Ke dua, Al-khoudl fil ilm yaitu belajar dengan tujuan agar dapat berbicara banyak, berdebat dan menjatuhkan orang dengan kepiawaian yang dimilikinya, sehingga orang menilainya sebagai orang alim yang tak terkalahkan ilmu-nya. Selayaknya ia lebih dahulu memperbaiki hati dan jiwanya, membersihkan dan menatanya, sehingga tujuan dalam mencari ilmu menjadi benar dan lurus. Karena merupakan karakteristik khas dari ilmu, bahwasanya ia menjadikan pemiliknya bertambah takut kepada Allah dan tawadhu’ terhadap sesama manusia. Ibarat pohon tatkala banyak buahnya, maka ia semakin merunduk dan merendah, sehingga orang akan dengan lebih mudah mendapatkan kebaikan dan manfaat darinya.

Orang, apabila telah hobi mengumbar omongan, bantah-bantahan dan debat kusir, maka ilmunya justru akan melemparkannya kepada kedudukan yang rendah dan pengetahuan yang dimilikinya tidak akan membuahkan hasil yang baik, sehingga keberkahan ilmu tidak tampak sama sekali.

2. Sombong dengan Amal Ibadah

Kesombongan ahli ibadah dari segi keduniaan adalah ia menghendaki,atau paling tidak membuat kesan, agar orang lain menganggapnya sebagai orang yang zuhud, wara’, taqwa dan paling mulia di hadapan manusia. Sedangkan dari segi agama adalah ia memandang, bahwa orang lain akan masuk neraka, sedang dia selamat darinya.

Sebagian ahli ibadah apabila ada orang lain yang membuatnya jengkel atau merendahkannya, maka terkadang mengeluarkan ucapan, "Allah tidak akan mengampunimu atau, "Kamu pasti masuk neraka" dan yang sejenisnya. Padahal ucapan-ucapan tersebut dimurkai Allah, yang justru dapat menjerumuskannya ke dalam neraka.

3. Sombong dengan Keturunan (Nasab)

Barangsiapa yang mendapati kesombongan dalam hati karena nasabnya, maka hendaknya ia segera mengobati hatinya itu.

Jika seseorang akan mencari nasabnya, maka perhatikan firman Allah berikut ini,

"Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani)." (QS. 32:7-8)

Inilah nasab manusia yang sebe-narnya, kakeknya yang terjauh adalah tanah, dan nasabnya yang terdekat adalah nuthfah alias air mani. Jika demikian keadaannya, maka tak selayaknya seseorang sombong dan merasa tinggi dengan nasabnya.

4. Sombong dengan Kecantikan/Ketampanan

Kesombongan seperti ini banyak terjadi di kalangan para wanita, yaitu dengan menyebut-nyebut kekurangan orang lain, menggunjing dan membicarakan aib sesama.

Seharusnya orang yang sombong dengan kecantikannya ini banyak menengok ke dalam hatinya. Untuk apa anggota tubuh yang indah, namun hati dan perangai buruk, padahal tubuh secantik apa pun pasti akan binasa, hancur dan hilang tak tersisa.

Belum lagi kalau orang mau merenungi, bahwa selagi masih hidup, maka mungkin saja Allah berkehendak untuk mengubah kecantikan atau ketampanannya, misalnya dengan mengalami kecelakaan, sakit kulit, kebakaran dan lain sebagainya, yang dapat menjadikan rupa yang cantik menjadi buruk. Maka dengan kesadaran seperti ini, insya Allah rasa sombong yang ada dalam hati akan terkikis dan bahkan tercabut hingga ke akar-akarnya.

5. Sombong dengan Harta

Yaitu dengan memandang rendah orang fakir dan bersikap congkak terhadap mereka. Ini disebabkan harta yang dimilikinya, perusahaan-perusahaan yang banyak, tanah dan bangunan, kendaraan mewah, perhiasan dan lain sebagainya. Kesombongan karena harta termasuk kesombongan karena faktor luar, dalam arti bukan merupa-kan potensi pribadi orang yang bersang-kutan. Berbeda dengan ilmu, amal, kecantikan atau nasab, sehingga apabila harta itu hilang, maka ia akan menjadi hina sehina-hinanya.

6. Sombong dengan Kekuatan dan Kegagahan

Orang yang mendapatkan karunia seperti ini hendaknya menyadari, bahwa kekuatan adalah milik Allah seluruhnya. Hendaknya selalu ingat, bahwa dengan sedikit sakit saja akan membuat badan tidak enak, istirahat tidak tenang. Kalau Allah menghendaki, seekor nyamuk pun dapat membuat seseorang sakit dan bahkan hingga menemui ajalnya.

Orang yang mau memikirkan ini semua, yaitu sakit dan kematian yang bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja, maka sudah sepantasanya tidak angkuh dan takabur dengan kekuatan dan kesehatan badannya.

7. Sombong dengan Banyaknya Keluarga, Kerabat atau Pengikut.

Kesombongan jenis ini juga merupakan kesombongan yang disebabkan faktor luar, bukan karena kelebihan yang dimiliki oleh yang bersangkutan. Dan setiap orang yang sombong karena sesuatu yang bukan dari kelebihan dan keunggulan dirinya sendiri, maka dia adalah sebodoh-bodoh manusia. Bagai-mana mungkin ia sombong dengan sesuatu yang bukan merupakan kelebih-an dirinya?

Pengaruh Kesombongan

Kesombongan memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan, dan pengaruh-pengaruh tersebut tampak dalam gerak-gerik anggota badan, cara berjalan, berdiri, duduk, berbicara dan diamnya seseorang.

Di antara pengaruh-pengaruh yang tampak dari sikap kesombongan adalah:
  1. Orang yang sombong kalau toh mau berjalan bersama-sama orang lain, maka ia selalu minta paling depan dan semua orang harus ada di belakangnya. Konon Abdur Rahman bin Aufz, kalau sedang berjalan bersama para pembantunya, maka tidak ketahuan ada disebe-lah mana, ia tidak pernah menonjolkan diri harus berada paling depan supaya semua orang melihatnya.
  2. Orang sombong jika berada di suatu majlis, biasanya minta diistimewakan, diperlakukan lain daripada yang lain. Kemudian ia akan sangat senang kalau semua orang mendengarkan yang ia katakan dan sangat benci kalau ada orang lain mengalihkan pembicaraan kepada selainnya. Maunya semua orang harus membenarkan dan menerima apa yang ia katakan.
  3. Termasuk pengaruh sifat sombong adalah memalingkan muka dari sesama muslim, atau melihat dengan pandangan sinis dan merendahkan.
  4. Kesombongan juga berpengaruh bagi seseorang dalam ucapan, gaya bicara dan nada intonasinya. Bahkan terkadang mencerminkan ketidaksopanan, misalnya seorang murid atau mahasiswa menghardik gurunya, karena ia merasa anak seorang pejabat atau tokoh.
  5. Kesombongan juga akan mempe-ngaruhi gaya jalan seseorang, misalnya sambil membusungkan dadanya, atau berjalan dengan dibuat-buat agar menarik perhatian orang lain. Allah Subhannahu wa Ta"ala telah berfirman, "Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung." (QS. 17:37)
  6. Kesombongan juga berpengaruh di dalam kehidupan rumah tangga. Biasanya orang yang dalam hatinya ada kesombongan akan enggan mengerjakan pekerjaan rumah, walau hanya sepele. Hal ini berbeda dengan sikap tawadhu’ yang diajarkan oleh Rasulullah Salallahu alaihi wa salam. Aisyah radiallahuanha meriwayatkan, bahwa Rasul Allah Subhannahu wa Ta"ala biasa membantu istri beliau.
  7. Merupakan pengaruh kesombongan juga, bahwasanya ia membuat seseorang enggan membawakan barang atau sesuatu ke rumahnya, meskipun bukan hal yang berat, misalnya saja barang belanjaan. Alizberkata, "Seseorang tidak akan berkurang kesempurnaannya dengan membawakan sesuatu untuk keluarganya."
  8. Kesombongan juga mempengaruhi gaya berpakaian seseorang, yaitu ia berpakaian dengan tujuan pamer dan supaya terkenal, atau dengan pakaian yang melanggar ketentuan syar’i, seperti isbal (memanjangkan celana di bawah mata kaki) bagi laki-laki.
  9. Orang yang sombong biasanya sangat senang apabila ia datang, lalu orang-orang berdiri untuk menghormat-nya. Padahal para shahabat apabila datang Rasulullahsaw kepada mereka, maka mereka tidak berdiri untuk beliau, hal ini dikarenakan mereka tahu, bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam membenci hal itu.
  10. Orang yang dalam hatinya ada kesombongan tidak akan mau mengunjungi orang lain, tidak mau mengucapkan salam lebih dahulu, minta supaya diprioritaskan dan tidak mau mendahulukan kepentingan orang lain.
  11. Kesombongan juga akan mengakibatkan seseorang tidak memandang adanya hak orang lain pada dirinya. Sementara itu ia beranggapan, bahwa ia memiliki hak yang banyak atas selainnya.